Spirit 212 terus menggema. Hadirilah Khataman Al Quran, Maulid Akbar, Shalat Ashar Berjamaah di Masjid At Taubah dan Gedung Al Washiyyah Foundation. 3 Januari 2017. Bersama KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym). KH. Ma'ruf Amin. Syeikh Muhammad Jaber. Dr. KH. Mohamad Hidayat MBA MH
Versi CetakVersi Cetak
KH Ma’ruf Amin: Iman Itu Bisa Bertambah Bisa Berkurang

Iman itu pemberian Allah, dan tidak semua orang yang mendapat hidayah. Bahkan keluarga Nabi ada yang tidak mendapat hidayah, seperti Abu Jahal, Abu Lahab. Rasulullah pernah meminta agar semua orang diberi hidayat, tapi kata Allah “Kamu tidak bisa memberi hidayah kepada orang yang kamu cintai melainkan Allah yang akan memberikan hidayah kepada orang yang dikehendaki.”

Alhamdulillah, kita semua termasuk yang diberikan hidayah oleh Allah SWT karena bisa hadir ke majlis. Insya Allah. Tapi, iman itu harus dijaga. Karena iman itu bisa bertambah bisa berkurang. Iman itu seperti emas, ada yang 24 karat, ada yang 18 karat, ada juga yang sekarat. Ada juga yang karatan, artinya tidak bisa didorong tidak bisa ditarik. Diajak ke majlis tidak bisa.

Bahkan ada juga iman yang hina menjadi murtad. Nauzubillah min zalik. Karena itu kita minta kepada Allah, tetapkanlah iman kita dan Islam kita jadikan sorga tempat kita kembali kepada Allah SWT. Hal ini supaya pandangan (persepsi) kita sesuai dengan yang diharapkan Allah.

Itu namanya Hidayah Taufiqiyah, yaitu hidayah yang sifatnya khusus. Sekalipun agama telah diturunkan untuk keselamatan manusia, tetapi banyak manusia tidak menggunakan akal dalam kendali agama.

Banyak orang yang mempunyai iman tetapi pandangan hidupnya berseberangan dengan yang diajarkan oleh Allah. Kadang-kadang kita terbalik, haq dikatakan batil dikatakan haq. Pelacuran itu haram, ada orang yang mau meningkatkan pelacuran. Judi itu haram, ada orang yang ingin melegalisasikan perjudian.

Oleh karena itu kita diajarkan oleh Rasulullah berdoa, “Allahumma arinal haqqa, haqqa, warzuqnattiba’ah, wa arinal bathila baathila, warzuqnajtinabah. {Ya Allah perlihatkan kepada kami yang haq adalah haq, perlihatkan yang bathil itu bathil. Berikan kemampuan pada kami untuk menjauhkannya}” Jadi, jangan salah kita melihatnya yang haq adalah haq dan bathil adalah bathil.

Perbedaan orang alim dengan ahli ibadah tidak alim itu seperti bulan purnama dengan bintang. Bedanya, bintang itu ada sinarnya hanya menyinari diri sendiri itu seperti ahli ibadah. Sedangkan orang alim itu seperti bulan purnama yang menyinari dunia. Tapi, bulan itu tidak punya sinar, yang punya sinar itu matahari.

Begitu juga orang alim dia tidak punya sinar, tetapi yang punya sinar itu adalah Rasulullah SAW. “Anta syamsun anta badrun Anta nurun fauqonuri (Engkaulah matahari, engkaulah cahaya dari segala cahaya). Jika orang alim keluar cahayanya itu dari cahaya Rasulullah. Cahaya bulan purnama karena tersinar oleh matahari. Buktinya, kalau matahari terhala maka bulannya terkena gerhana.

Kiai juga begitu, kena sinar dari Rasulullah. Kalau sinarnya terhalang tidak sampai sehingga hilang sinarnya menjadi kiai gerhana. Untuk itu, marilah kita minta diberikan oleh Allah  agar diberikan pertolongan untuk bisa melaksanakan semua ajaran Allah. Karena banyak orang yang persepsinya benar tapi tidak menjalankan perintahNya. Padahal, orang Muslim itu kalau diperintah oleh Allah  jawabnya cuma satu, yaitu Samina wa athona. Tapi ada yang jawabnya berbeda samina wa entarna.

Maka Rasulullah mengajarkan doa,”Ya Allah berilah saya inayah, pertolongan agar senantiasa zikir, dan bersyukur dan beribadah dengan baik kepada Allah. Maka setiap hari dalam shalat kita membaca Iyya kana'budu waiyya kanastain (Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan).

Kemudian kita meminta kepada Allah, agar kita dijaga oleh Allah supaya kita tetap istiqomah. Jangan sampai digeser-geser setalah mendapat inayah. Rasulullah pernah mengatakan,”membuat kepala saya beruban. Apa yang membuatnya kepada beruban? Yaitu surat Hud. Kenapa? Karena disitu ada firman Allah, bunyinya berbuatlah kamu seperti perintah Allah.”

Maka ada perintah dari Allah,”Qu anfusakum naaro (Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka).” Ya Allah tetapkan kami ke jalan istiqomah, dan lindungi kami daripada yang menyebabkan penyesalan dan mengakibatkan kami menyesal pada hari kiamat.

Kalau sudah meninggal seorang alim, Allah akan mengangkat seorang pemimpin yang bodoh-bodoh. Kalau ditanya dia memberi fatwa tanpa ilmu, maka dia sesat dan menyesatkan. Karena itu, jangan boleh negara kita Indonesia ini, kehilangan ulama.

Tapi, ada tanggung jawab yang tidak mungkin dilaksanakan oleh ulama dan keluarganya. Yaitu tanggung jawab keumatan. Itu yang diprihatinkan oleh Rasulullah. Waktu beliau wafat tidak menangisi keluarganya tetapi ummati...ummati...ummati.

---

Tausiyah Dr. KH. Ma’ruf Amin, Ketum Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada acara Khataman Alquran, Maulid Akbar, Shalat Ashar Berjamaah di Masjid Jami' At Taubah dan Aula Al Washiyyah Foundatian, Selasa, 3 Januari 2017).

Diposting oleh Husnie
Selasa, 03 Januari 2017 17:01:54

Rubrik : Kegiatan Pesantren - dibaca : 112 Kali