Spirit 212 terus menggema. Hadirilah Khataman Al Quran, Maulid Akbar, Shalat Ashar Berjamaah di Masjid At Taubah dan Gedung Al Washiyyah Foundation. 3 Januari 2017. Bersama KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym). KH. Ma'ruf Amin. Syeikh Muhammad Jaber. Dr. KH. Mohamad Hidayat MBA MH
Versi CetakVersi Cetak
Muhasabah Awal Tahun, Menghargai Waktu

Allah memberikan peringatan kepada akan pentingnya kita menghargai, mengoptimalkan nikmat Iman dan Islam yang Allah berikan sebelum nikmat itu dikembalikan kepada Allah SWT. Kalau anugerah itu digantikan oleh Allah, maka nikmat yang lain akan berhenti.

Sekarang kita masih bisa melihat, masih bisa beraktifitas, bisa hadir di masjlis ilmu, bisa shalat, bisa bermuamalah, bisa berkumpul dengan keluarga. Jadi nikmat waktu itu memang sebuah anugerah. Namun sayangnya kita termasuk orang-orang yang tidak menghargai waktu.

Maka melalui Kitab tanbihul Ghafilin yang kita baca ini, kita mendapat nasehat tentang betapa pentingnya memperbaiki diri mengisi kesempatan hidup ini dengan sabaik-baiknya. Waktu yang singat telah berlalu tidak mungkin akan kembali lagi. Jangankan tahun lalu, semalam apa yang kita kerjakan itu tidak bakalan balik lagi.

Setiap pagi waktu berteriak memanggil kita semua, dia mengingatkan kita untuk menghargai waktu. ”Wahai anak-anak Adam hari ini aku adalah makhluk yang baru, yang kemarin lain lagi dan esok lain lagi. Dan seluruh perbuatanmu aku saksikan, aku catat, aku rekam untuk aku laporkan kepada Allah SWT. Maka sesungguhnya kalau aku sudah lewat, aku  dengan apa yang telah terjadi.”

Al Hakim (Lukmanul Hakim) memberikan nasehat, bahwa ada tiga perkara yang tidak boleh dilupakan. Yaitu, dunia ini fana tidak kekal, hidup tidak selamanya dan banyak yang lupa. Kedua, yang tidak boleh kita lupa adalah kematian. Kita suka lupa dengan mati, tapi mati tidak lupa dengan kita. Dan tidak ada yang tahu kapan kematian itu datang dan tidak ada seorang pun yang tahu di bumi mana dia akan wafat. Ketiga, berbagai petaka seorang tidak bisa aman daripadanya.

Nasehat ini maksudnya, agar kita tidak lupa kepada Allah. Karena kita sebagai hamba yang dhaif kapan saja bisa mendapat musibah.

Hatim al Asham meriwayatkan bahwa ada empat perkara yang tidak diketahui kadarnya kecuali oleh empat golongan. Pertama, kadar masa muda yang tidak diketahui nilainya itu kecuali oleh orang yang sudah tua. Kedua, kadar nilai keselamtan tidak diketahui kecuali oleh orang yang telah mendapat musibah. Ketiga, kadar nilai kesehatan tidak diketahui kecuali oleh orang yang sakit. Keempat, kadar  nilai hidup ini tidak diketahui kecuali oleh orang yang sudah mati.

Sedangkan Syeikh Abu Ali Syaqiq bin Ibrahim mengatakan, orang sama denganku pada empat perkara tetapi secara ucapan. Tetapi mereka berbeda denganku dalam tindakan. Pertama, bahwa orang berkata saya ini hamba Allah Ta’ala. Tetapi mereka bertindak seperti orang-orang yang merdeka. Tidak mau diatur dan melawan perintah Allah. Padahal dia budaknya Allah. Ucapannya hamba Allah, tetapi tindakannya bukan sebagai hamba Allah.

Jika ingin menjadi kafir jadilah kafir yang benar, dan kalau ingin beriman jadilah beriman yang benar. Jangan mengaku beriman tetapi bermain-main dengan hukum Allah.  Dalam melaksanakan toleransi, Lakum Diinukum wa Liya Diin, tidak boleh kita mencela ibadah orang lain.  Biarkan mereka melakukan ibadahnya, tetapi mereka juga tidak boleh memaksa umat Islam untuk ikut ajaran mereka.

Jadi, kita saling menghormati dalam beribadah. Karena kita sebagai hamba Allah jangan bermain-main dalam tauhid. Kalau tauhid kita sudah kuat, Insya Allah akan masuk surga. Yang penting tauhid kita dijaga, jangan dicampur adukkan dengan keimanan yang lain.

Kedua, mereka berkata bahwa Allah akan menjamin rezeki kita. Padahal dihati mereka itu tidak pernah percaya kecuali ada materi dunia alias fulus. Kita bilang Allah yang menjamin kita tetapi buktinya kalau kita tidak fulus, kita mampus. Oleh sebab itu, umat Islam dianjurkan untuk berpuasa agar tidak dipengaruhi oleh dunia.

Ketiga, orang berkata bahwa akhirat itu lebih baik dari dunia. Buktinya, banyak orang mengumpulkan harta dunia. Artinya antara ucapan dan tindakan tidak sama. Bagaimana hal ini membuat kita menjadi orang saleh, jika masih menuruti nafsu dunia. Dan yang keempat, orang berkata bahwa kami pasti mati. Tetapi mereka bertindak seolah-olah tidak akan mati.

--

Kajian rutin Kitab Tanbihul Ghafilin oleh Dr. KH. Mohamad Hidayat, MBA MH (Pengasuh Ponpes Tahfidz alQuran alWashiyyah), pada Taklim & Dakwah Malam Senin (TAHSIN) di Masjid Jami’ At Taubah, Ahad 1 Januari 2017.

Diposting oleh Husnie
Minggu, 01 Januari 2017 21:01:25

Rubrik : Taushiyah - dibaca : 116 Kali